Ingin karyamu dibaca orang banyak dan terpublikasi disini? Hubungi kami Kirim Artikel!

Menanggapi hinaan Eko Kuntadhi: Puncak kenikmatan surgawi

Menanggapi hinaan Eko Kuntadhi: Puncak kenikmatan surgawi

Lagi rame kawan-kawan membahas hinaan Eko Kuntadhi pada kontennya Ning Imaz Lirboyo yang sedang menjelaskan soal di surga nanti perempuan apakah dapat bidadara atau dapat apa? Ning Imaz bilang bahwa puncak kenikmatan bagi lelaki di surga adalah wanita sehingga diberi bidadari sedangkan puncak kenikmatan bagi perempuan adalah perhiasan sehingga diberi perhiasan.

Terlepas dari itu, saya mendukung konten-konten positif yang diampu oleh perempuan di medsos supaya mengimbangi konten joget atau pamer aurat yang sebenarnya justru membuat perempuan terkesan murah dan sekedar jadi objek seksual. Kalau Eko Kuntadhi sadar akan recehnya persoalan "selangkangan", harusnya dia mentolol-tololkan konten perempuan yang isinya cuma menjurus ke persoalan selangkangan, bukan malah mentololkan konten perempuan yang sedang membahas tafsir al-Qur'an seperti yang dilakukan Ning Imaz, terlepas setuju atau tidak pada kesimpulannya. Kita tunggu saja Eko dan tim soraknya mentololkan perempuan yang kontennya justru menjatuhkan harga diri perempuan sendiri, bahkan tak sedikit yang terang-terangan bilang open BO di medsos sehingga tubuh perempuan hanya jadi barang dagangan, itu kalau dia memang peduli pada isu kehormatan wanita.

Kembali ke persoalan surga, saya secara pribadi kurang sepakat pada kesimpulan Ning Imaz yang menyatakan bahwa kenikmatan tertinggi bagi laki-laki di surga adalah perempuan, meskipun saya tahu ada sebagian ulama ahli tafsir yang menyatakan demikian. Alasannya, sebab surga itu adalah tempat semua orientasi kenikmatan manusia dapat tercapai dalam dosis yang tidak terbayangkan. 

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. [Surat Fussilat 31]

Masalahnya, orientasi kenikmatan tertinggi bagi setiap orang itu berbeda-beda. Ada loh lelaki yang jauh lebih cinta mobilnya daripada istrinya, ada juga yang dingin pada wanita tapi lebih asik ngumpulin duit, ada juga yang puncak bahagianya ketika dia ngobrol konkow bareng kawan-kawannya. Dalam kitab fikih disebutkan bahwa hukum menikah bisa makruh untuk orang yang tidak terlalu butuh kehidupan seksual dan bisa jadi haram bagi yang malah tidak menyukai seks sebab memang faktanya tidak semua orang suka seks. Nabi Yahya adalah contoh sosok lelaki panutan yang tidak punya insting seksual sehingga tidak tertarik pada perempuan (apalagi pada lelaki) dan lebih memilih beribadah.

Al Qur'an dan hadis membahas semua jenis orientasi kenikmatan alias kegemaran manusia secara komplit dan menjanjikan balasan yang sesuai dengan kegemarannya masing-masing. Berikut ini gambaran iming-iming surga dalam al-Qur'an dan hadis sesuai minat dan orientasi kebahagiaan masing-masing orang

Bagi yang orientasinya adalah harta, surga adalah tempat mendapat kekayaan luar biasa, bahan materialnya digambarkan dalam hadis riwayat Ahmad bahwa satu bata dari emas dan satu bata dari perak. Perekat antara kedua bata itu adalah musk yang amat wangi semerbak. Batu-batunya berupa intan dan yakut sedangkan tanahnya zakfaran.

Bagi yang orientasinya adalah makanan, maka disebutkan bahwa sungainya dari susu, semua jenis buah dan makanan ada dan tak habis-habis, tak perlu buang kotoran lagi sehingga bisa makan selamanya kalau mau. Andai kamu melihat burung terbang lalu kamu ingin memakannya, maka burung itu pun akan langsung terjadi jadi burung goreng di depanmu, kata Nabi dalam suatu hadis.

Bagi yang orientasinya menjadi tuan tanah, maka disebut bahwa di dalamnya banyak kebun-kebun yang sangat luas dan subur yang di bawahnya mengalir sumber mata air.

Bagi yang orientasinya adalah traveling, disebut bahwa di dalamnya ada Buraq yang sekali langkahnya sejauh mata memandang. Tempatnya indah luar biasa sehingga bukan hanya instagrammable tapi entah apa kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Bagi yang orientasinya adalah nongkrong bareng teman, disebutkan bahwa di surga, penduduknya pada nongkrong di atas dipan bertahtakan emas permata yang berbaris-baris berhadapan serta dilayani oleh para wildanun mukhalladun, para pemuda kekal yang rapi bersih dan ganteng (tidak seperti image pembantu di dunia), yang membawa jamuan minuman lezat luar biasa.

Bagi yang orientasinya adalah keluarga, maka disebutkan bahwa di sana seseorang bisa dikumpulkan dengan pasangan, leluhur dan keturunannya, tentu bila mereka juga masuk kualifikasi penduduk surga. Soal amalan tak sepadan, bisa lah disetarakan supaya bisa ngumpul. Pokoknya semua bisa bareng dan bahagia bareng.

Bagi yang sukanya mabuk-mabukan pun, yang biasanya marah-marah kalau dilarang mabuk, disebutkan bahwa kalau mereka mau menahan diri dari perbuatan haram itu selama di dunia, maka di surga nanti akan disediakan khamr yang sangat nikmat, meskipun tidak ada orang teler di surga. Yang ada dari khamr surga hanya kenikmatan dan kepuasannya, bukan telernya.

Lalu bagi para lelaki yang obsesinya adalah wanita, maka disebutkan bahwa di surga nanti akan disediakan banyak bidadari yang selalu perawan, seumuran dan tentu cantik-cantik luar biasa. Kita tak dapat memungkiri bahwa lelaki yang suka seks dan menganggap seks adalah puncak kenikmatan itu ada banyak, dan bisa jadi Eko Kuntadhi adalah salah satunya, haha. Untuk mereka yang begini inilah iming-iming bidadari ditujukan. Ning Imaz juga sepertinya merujuk pada sebagian ahli tafsir lelaki yang orientasi kenikmatannya adalah nikmat yang ini. Saya tidak menyebut ini dalam konteks celaan sebab tak ada yang salah dengan laki-laki suka perempuan, yang salah adalah ketika laki-laki suka lelaki lain. Ohya, nanti yang jomblo selama di dunia tidak akan lagi menjomblo di surga, mereka akan mendapat pasangan sesama penduduk dunia supaya semua bisa merasakan nikmat yang satu itu.

Itu semua adalah orientasi kenikmatan yang standar dimiliki orang umum. Seluruh kenikmatan dunia secara umum seputar hal yang saya sebut di atas. Gambaran itu pun hanya gambaran kasar, bukan level kenikmatan yang benar-benar akan dirasakan nanti di surga sebab kenikmatan surga itu tak bisa dibayangkan sama sekali. Istilah-istilah dan nama benda yang ada di sana hanya sekedar gambaran, bukan seperti apa yang kita kenal di dunia. Nabi Muhammad menggambarkan hakikat surga sebagai:

مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ (متفق عليه) 

Apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, tak pernah terbesit dalam hati seorang manusia pun. (Hadis riwayat Bukhari - Muslim) Tapi jangan lupa, selain itu ada pula yang orientasinya keren dan elite seperti berikut:

Bagi yang obsesinya adalah Nabi Muhammad, cinta mati pada Nabi dan selalu berusaha meniru teladannya, selama di dunia kegemaraannya adalah membaca shalawat setiap waktu, maka di surga nanti dia dijanjikan bisa hidup bertetangga dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan para nabi lainnya. Tentu saja fasilitasnya VVIP.

Bagi yang obsesinya adalah Allah, maka ada fasilitas paling bona-fide, kenikmatan tertinggi dan anugerah teragung berupa melihat Allah. Tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan yang satu ini. Sepanjang yang saya baca, ulama sepakat bahwa secara mutlak inilah kenikmatan yang tertinggi, bukan yang lainnya.

Lalu bagaimana dengan hobi dan orientasi yang di dunia dianggap rendah, apakah juga disediakan di surga? Tidak ada. Orang yang menyukai sesama jenis, menyukai seks dengan hewan, merasa nikmat ketika menyiksa orang lain, ketika memfitnah orang,  kanibal dan sebagainya tidak akan menyukai lagi hal-hal tersebut bila mereka masuk surga. Demikian juga dengan perempuan yang suka gonta-ganti lelaki atau suka ketika tubuhnya dinikmati banyak lelaki tidak akan lagi bersikap demikian ketika pada akhirnya masuk surga. Sebab itulah tidak ada bahasan bahwa di surga nanti seorang perempuan muslimah akan dapat banyak bidadara untuk melayani kebutuhan seksualnya sebab hal ini dianggap rendah. Masak perempuan terhormat dari dunia yang sudah berdarah-darah mengumpulkan pahala malah jadi objek seksual bidadara surga? Tentu tidak. 

Sumber: hwmi

Getting Info...

About the Author

Pegiat Media Nahdlatul Ulama

Posting Komentar

Komentarmu adalah cerminan dirimu
Posting Komentar
Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
Harap matikan adblock untuk mengakses web ini
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.