Jejak KI Ageng Rogosasi

Jejak KI Ageng Rogosasi - Bagi Masyarakat Tumang Boyolali, nama Ki Ageng Rogosasi tentu tak asing bagi mereka. Nama tersebut merupakan seorang penyebar Islam di daerah setempat, yang konon merupakan keturunan Sunan Ampel. Kami mencoba untuk menelusuri jejaknya di Desa Tumang.

Untuk mencapai Desa Tumang, yang terletak di lereng Gunung Merapi, dari Boyolali kota kami naik ke arah Cepogo. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 km, sampailah kami di Cepogo. Beberapa kali kami mesti bertanya kepada penduduk setempat, karena letaknya yang cukup terpencil, sampai akhirnya kami menemukan sebuah komplek makam.

Di pintu gerbang, terdapat tulisan Rogosasi dalam bahasa Jawa. Namun, kami mesti naik dahulu, karena makam terletak di puncak sebuah tanah berbukit. Makam terletak di sebuah bangunan yang dikelilingi pohon-pohon besar. Sayangnya, sampai di makam, pintu masih terkunci. Kami pun berinisiatif untuk mencari juru kunci makam.

Dari penuturan salah seorang warga, kami ditunjukkan sebuah rumah milik Muhammad Isnin, sang juru makam. Namun, rupanya keberuntungan sedang tidak berpihak dengan kami. Juru makam yang kami harapkan bisa kami korek informasi, pergi ke Blitar.

Pangeran Mataram Islam
Tak ingin pulang dengan tangan hampa, kami menemui salah seorang warga setempat, Sritanto. Dari keterangannya, kami mendapat sebuah fakta menarik, bahwa Ki Ageng Rogosasi ternyata masih ada hubungannya dengan Kiai Hasan Munadi Nyatnyono (Ungaran), soerang tokoh yang diyakini banyak orang sebagai seorang waliyullah. Juga tentang jalur kelimuannya. “Ki Ageng Rogosasi merupakan murid dari Sunan Kalijaga,” ungkap Sritanto.

Dari beberapa informasi yang kami kumpulkan, Ki Rogosasi ini juga merupakan seorang Pangeran Kerajaan Mataram Islam, yakni putera pertama Amangkurat I dari permaisuri Ratu Labuhan.

Bersama Ki Empu Supandriya, Rogosasi menyebarkan Islam di sana, dengan mendirikan sebuah masjid dan padepokan di daerah Gunungsari Tumang. Jejak ajarannya oleh masyarakat Tumang, salah satunya dikenal dengan nama Pelajaran Tauhid Panembah Sejati Tunggal.

Di masa setelah meninggalnya, makamnya sering didatangi para peziarah dari berbagai daerah. Meskipun demikian, Menurut Sriyanto peringatan haul untuk Ki Rogosasi belum pernah diadakan. Baru pada tahun ini, warga yang didukung pihak kelurahan berencana untuk mengadakannya. “Jumat besok, rencana akan diadakan pertama kali haul Ki Rogosasi,” pungkasnya.


Dalam kegiatan tersebut ratusan warga dari berbagai daerah, ikut menghadiri acara peringatan Haul Kyai Ageng Rogosasi bertempat di depan kompeks Makam Tumang, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah


Kyai Ageng Rogosasi merupakan seorang tokoh ulama yang mendirikan kampung Tumang Cepogo Boyolali, sekaligus yang menyebarkan agama Islam di lereng Gunung Merapi tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, dijelaskan silsilah Kiai Ageng Rogosasi oleh KH Muhromi dari Ketapang Susukan. Menurutnya, Kiai Ageng Rogosasi ini termasuk salah satu keturunan Kerajaan Mataram dan mempunyai ranji nasab dari Sunan Kalijaga.

“Silsilah Kyai Ageng Rogosasi ini masih menyambung mulai dari Sunan Kalijaga, Kyai Hasan Munadi Nyatnyono sampai KH Ahmad Siradj Surakarta,” terang tokoh yang pernah mengemban amanah Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Semarang ini.

Usai dibacakan manaqib Kyai Ageng Rogosasi tersebut, para jamaah kemudian mendengarkan tausiah dari Para Kyai NU dari berbagai wilayah.

Sementara itu, Kepala Desa Cepogo berharap kegiatan peringatan haul yang telah berjalan rutin setiap tahun ini dapat memberikan manfaat bagi warga. "Acara ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Tumang. Mengingat jasa-jasa Mbah Kyai Rogosasi dalam menyebarkan agama Islam dan menjaga desa ini," tuturnya.

Ditambahkan Mawardi, para warga, khususnya generasi muda juga harus memiliki peran dalam melestarikan budaya dan mengkaji sejarah leluhurnya


Sumber artikel : NU Online

Posting Komentar

Komentarmu adalah cerminan dirimu