Ingin karyamu dibaca orang banyak dan terpublikasi disini? Hubungi kami Kirim Artikel!

Islam barat dan Islam timur di suriname


Di Amerika Selatan tepatnya di Suriname ada kepercayaan di Jawa yang menjadi agama resmi di sana yaitu Kejawen, Selain Kejawen Suriname juga mengakui agama Kristen yang merupakan mayoritas disana selain itu terdapat agama Islam, Hindu, dan juga agama Winti.

Suriname adalah sebuah negara bekas jajahan Belanda dengan salah satu komunitas penghuninya adalah orang Jawa.

Kita bisa menemukan bahwa  bahasa Jawa masih digunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari di negara tersebut. Di Suriname bukan hanya komunitas Jawa saja yang bisa kita temukan tetapi  bahasa Jawa juga sangat terpakai disana.

Di Suriname terdapat Islam Timur, Islam Barat, dan agama Kejawen. Lalu apakah perbedaan antara islam timur dan islam barat?

Umat Islam Jawa di Suriname terbagi menjadi dua yaitu umat islam yang sholat berkiblat ke barat, dan yang sholat berkiblat ke timur. Mereka saling bermusuhan, tidak saling menyapa, tidak saling menghadiri acara satu sama lain.

Di Suriname juga ada agama yang relatif baru, yakni agama Kejawen. Agama ini menjadi agama resmi yang diakui pemerintah, pemuka agama Kejawen itu juga mendapatkan gaji dari pemerintah, dan hari raya Kejawen juga akan menjadi hari libur nasional.

Kejawen itu merupakan agama yang berusaha untuk menghapus unsur-unsur Islam agar hanya tersisa tradisi Jawa, meskipun upaya itu tak benar-benar bisa dilakukan.

Agama Kejawen di Suriname itu muncul, karena mencoba menciptakan ritual baru. Mereka membersihkan dengan cara menghapus unsur-unsur Islam, sehingga yang tersisa adalah tradisi Jawa.

Orang Jawa di Suriname baru ada sekitar 130-140 tahun lalu,  dan karena itu Islam dan tradisi Jawa bercampur. Salah satu tradisi yang lekat dalam agama Kejawen itu adalah selamatan dan bersih desa. 

Menurut mereka cara bersih desa itu merupakan bersih-bersih dari roh jahat, Tradisi lain yang dalam agama Kejawen yang sangat Jawa adalah penggunaan bahasa kromo inggil, bahasa Jawa halus dalam doa-doa yang dirapalkan.

Aksara Jawa yang dikenal dengan honocoroko (lima abjad pertama aksara Jawa) juga digunakan dalam catatan doa. Aksara itu ada di beberapa tempat ibadah agama Kejawen.

Honocoroko itu memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Hanya saja pengaruh Islam sulit dihapus. Misalnya, ketika akan memulai ritual doa sebagian pemeluk Kejawen tetap melakukan wudlu.

Uniknya agama Kejawen memiliki sempalan, Setidaknya ada 30-40 sempalan sehingga pemerintah Suriname belum mendapatkan kata sepakat untuk menentukan hari libur nasional agama tersebut. Jarak antara Suriname dan jawa sekutar 10.000km

Padahal di Jawa saja kejawen itu tidak 'diakui', tetapi di Suriname justru menjadi agama resmi. Bukan hanya orang Jawa namun juga dianut oleh orang India keturunan Afrika. 

Tentunya hal itu sangat mengesankan dan menimbulkan kebanggaan bagi kita sebagai orang Indonesia umumnya dan orang Jawa khususnya.

Getting Info...

About the Author

Pegiat Media Nahdlatul Ulama

Posting Komentar

Komentarmu adalah cerminan dirimu
Posting Komentar
Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
Harap matikan adblock untuk mengakses web ini
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.